Bisnis

Harga Kambing Aqiqah Depok 2021

APAKAH MISKIN DIMAKSUD DARI AQEEQAH? : –

Tidak ada perbedaan pendapat bahwa tidak wajib bagi yang miskin apalagi yang berhutang.

BEASISWA DARI STANDING COMMITTEE DIMINTA: –

Jika saya dikaruniai sejumlah anak, dan saya tidak dapat melakukan aqiqah untuk salah satu dari mereka karena saya tidak mampu, karena saya seorang karyawan dan gaji saya terbatas dan hanya cukup untuk menutupi pengeluaran bulanan saya, berapa Hukum Aqiqah Anak Saya dalam Islam?

REPLIED: –

Jika situasinya seperti yang Anda gambarkan dan Anda tidak mampu, dan penghasilan Anda hanya cukup untuk menutupi pengeluaran Anda untuk diri sendiri dan orang-orang yang Anda asuh, maka tidak ada salahnya Anda tidak melakukan aqiqah untuk anak-anak Anda, karena Allah mengatakan (interpretasi arti):

“Allah tidak membebani seseorang di luar jangkauannya”

(SURAH AL BAQARAH 2 VERSE 286)

“Dan [Allah] tidak meletakkan ke atasmu dalam agama apapun kesulitan”

(SURAH AL-HAJJ 22 AYAT 78)

“Jadi pertahankan kewajibanmu kepada Allah dan takuti Dia sebanyak yang kamu bisa”

(SURAH AL-TAGHAABUN 64 AYAT 16)

(FATAAWA AL-LAJNAH AL-DAA’IMAH, 11/436, 437)

Kambing aqiqah depok

____________________________________________________________________________________________________________

7) BISA MENUNDA AQEEQAH? : –

Sunnah adalah Aqiqah yang harus dilakukan pada hari ketujuh, tetapi jika ditunda sampai setelah hari ketujuh, tidak ada dosa, dan harus dipersembahkan ketika orang Islam mampu melakukannya.

BEASISWA DARI STANDING COMMITTEE DIMINTA: –

Seorang laki-laki memiliki sejumlah anak laki-laki dan dia tidak melakukan aqiqah untuk mereka, karena dia miskin. Beberapa tahun kemudian, Allah membuatnya merdeka dari sarana dengan Karunia-Nya. Apakah dia harus melakukan aqiqah?

REPLIED: –

Jika situasinya seperti yang dijelaskan, maka dia ditetapkan untuk melakukan ‘aqiqah untuk mereka, dua domba untuk setiap anak laki-laki.

(FATAAWA AL-LAJNAH AL-DAA’IMAH, 11/441, 442)

SHAYKH IBN ‘UTHAYMEEN DIAJUKAN: –

Seorang pria memiliki sejumlah putra dan putri, dan dia tidak melakukan aqiqah untuk salah satu dari mereka, baik karena ketidaktahuan atau kecerobohan. Beberapa dari mereka sudah dewasa sekarang. Apa yang harus dia lakukan sekarang?

Dia menjawab: Jika dia melakukan ‘aqiqah untuk mereka sekarang, itu akan baik, jika dia tidak tahu apa-apa tentang aturan atau jika dia terus berkata, “Saya akan melakukan’ aqiqah besok” sampai terlalu banyak waktu berlalu. Tetapi jika dia miskin pada saat aqiqah telah ditentukan, maka dia tidak perlu melakukan apapun.

(LIQA ‘AL-BAAB AL-MAFTOOH, 2 / 17-18)

AL-LAYTH IBN SA’D SAID: –

Aqiqah harus dipersembahkan untuk bayi yang baru lahir pada hari ketujuh; Jika mereka tidak mampu melakukan aqiqah pada hari ketujuh, maka tidak ada salahnya mereka melakukannya setelahnya. Tidak wajib menawarkan aqiqah untuknya setelah tujuh hari.

(TUHFAT AL-MAWDOOD, HALAMAN 63)

Baca Juga: Sporting Clays Tip

IBN AL-QAYYIM MENGATAKAN: –

Jika disembelih atas namanya pada hari kedelapan atau kesepuluh, atau setelah itu, diperbolehkan.

(TUHFAT AL-MAWDOOD, HALAMAN 63)

Syekh Saalih al-Fawzaan (semoga Allah melestarikannya) ditanya: Jika saya di kota saya dan Allah memberkati saya dengan bayi laki-laki atau perempuan, tetapi saya tidak akan dapat kembali ke suami saya di kota lain di mana dia tinggal sampai setelah satu bulan atau lebih, apakah saya harus melakukan aqiqah pada hari ketujuh atau empat belas atau dua puluh satu seperti yang disebutkan dalam hadits ‘Aa’ishah (semoga Allah meridhoi dia), atau itu diperbolehkan bagi saya menunda sampai aku kembali ke suamiku dan melakukannya saat aku bersamanya?

Dia menjawab: Tidak ada yang mengatakan bahwa penyembelihan aqiqah tidak dapat ditunda sampai waktu yang lebih cocok dan mudah bagi orang tua atau salah satu dari mereka. Lebih baik menyembelihnya pada hari ketujuh jika memungkinkan. Namun jika tidak memungkinkan maka tidak ada salahnya menundanya sampai lain waktu, sesuai kemampuan mereka. Perlu diketahui bahwa menyembelih aqiqah harus dilakukan oleh ayah dari anak dan merupakan salah satu hak yang dimiliki anak atas ayahnya.

(AL-MUNTAQA MIN FATAAWA AL-FAWZAAN, 84/5)

Leave a Comment